Sabtu, 20 Oktober 2012

Teknologi pertanian

Teknologi modern Dalam Pertanian

Penggunaan TRAKTOR di Lahan Pertanian

Memasuki era teknologi tinggi penggunaan alat-alat pertanian dengan mesin-mesin modern membantu percepatan proses pengolahan produksi pertanian. Salah satu alat yang umum dan paling sering digunakan adalah Traktor. Traktor merupakan sebuah alat bermesin yang memiliki kemampuan untuk mengolah tanah. Fungsi traktor sekrang telah mengantikan fungsi tenaga hewan seperti sapi dan kerbau dalam pengolahan tanah. Walaupun telah dikenal luas namun perlu kiranya kita membahas tentang perlunya mengenal mesin traktor tangan. Mesin traktor tangan ini telah digerkan dengan tenaga mesin, namun pengoperasiannya menggunakan tangan. Pengenalan yang baik atas mesin traktor tangan ini, dapat mempercepat proses modernisasi pertanian.

Traktor tangan (hand tractor) adalah sumber penggerak dari implemen (peralatan) pertanian. Biasanya traktor tangan digunakan untuk mengolah tanah. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna, karena dapat digunakan untuk tenaga penggerak implemen yang lain, seperti : pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain-lain.

Berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

Traktor tangan berbahan bakar Solar

Traktor tangan berbahan bakar bensin

Traktor tangan berbahan bakar minyak tanah (kerosin)

Berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

Traktor tangan berukuran kecil, tenaga penggeraknya kurang dari 5 hp

Traktor tangan berukuran sedang, tenaga penggeraknya antara 5 – 7 hp

Traktor tangan berukuran besar, tenaga penggeraknya antara 7–12 hp

Catatan :

Traktor dengan bahan bakar bensin dan minyak tanah biasanya berukuran kurang dari 7 hp. Jenis motor yang paling banyak digunakan traktor tangan di Indonesia adalah motor berbahan bakar solar.

Untuk lebih mengenal traktor tangan maka Langkah pertama yang harus dipelajari oleh calon operator untuk dapat mengoperasikan traktor tangan adalah mengenal traktor tangan itu sendiri.

Maka penggunaan metode pertanian tradisional akan semakin berkurang sebagaimana metode modernisasi akan mengubahnya dan memungkinkan para petani bekerja secara efisien, namun banyak juga kekurangan dan kelebihan dari teknologi tersebut dibandingkan dengan cara tradisional.

Kelebihan Teknologi pertanian modern dan tradisional:

1. Pekerjaan lebih ringan dan cepat selesai.

2. Efisiensi kerja maksimal, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainya.

Kekurangan :

1. Kurangnya pengetahuan untuk menggunakan alat tersebut

2.. Biaya yang dikeluarkan lumayan besar,

Sistim Penyuluhan Pertanian, dengan Teknologi Modern

 

Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Membangun sistem Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian ( Holtikultura ) yang berhasil dan berdayaguna tidak dapat dilepaspisahkan dari dinamika kerja partisipatif antara penyuluh sebagai agen pembaharu informasi, adopsi, inovasi, teknologi dan pelaku utama yang dihimpunkan dalam kelompok tani, Kegiatan Penyuluhan Penerapan Teknologi Pertanian Modern (Holtikultura) dapat terwujud dengan mitra kerja didalam menjalankan peran, tugas dan fungsi secara memadai.

 

Desa Waiheru, sebagai salah satu desa yang berada di kota Ambon memiliki karakteristik dan luas lahan yang begitu sempit dan diperlukan adanya alih teknologi, sehingga kondisi lahan tersebut dapat dimanfaatkan seefisien mungkin oleh para petani pengarap guna memenuhi kebutuhan pasar dan peningkatan kesejahteraannya. Pengembangan komoditas holtikultura di desa waiheru merupakan salah satu program pengembangan ekonomi pertanian untuk mengatasi kelangkaan komoditas di pasar local. Untuk mewujudkan rencana dan program yang demikian dibutuhkan dukungan sumber dana, SDM dan pembinaan yang ditujukan pada manejemen usaha, pengelolahan lahan, efisiensi dan efektivitas berusaha dan bantuan teknologi serta evaluasi dan monitoring instansi terkait.

Sejalan dengan itu maka sebagai implikasinya diperlukan suatu metode penyuluhan dan penerapan teknologi secara modern pada kegiatan holtikultura sehingga kedepan para petani dalam mengelola usaha taninya dapat mengerti teknologi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat tani dan pelaku usaha.

Dengan terwujudnya kegiatan ini maka akan menghasilkan output yang sangat baik dan berguna bagi pelaku utama guna memanfaatkan sekaligus meningkatkan hasil produksinya dengan penerapan teknologi pertanian modern ( Holtikultur ) di Kota Ambon.

Untuk itu peran penyuluh pertanian sebagai Penyuluh Pendamping adalah sangat penting dan diperlukan sebagai pembimbing petani juga sebagai penghubung antar petani dan pemerintah, maka Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Provinsi Maluku melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan dengan pola Penerapan Teknologi Pertanian Modern ( Holtikultura ) di Kecamatan Baguala dimana tujuannya untuk melanjutkan dan mengembangkan usaha pertanian dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat tani mandiri dan maju serta menciptakan pengembangan ekonomi kerakyatan di kecamatan Baguala

Dengan terwujudnya kegiatan ini diharapkan :

  • Terselenggaranya program penyuluhan penerapan teknologi pertanian modern ( Holtikultura ) bagi pelaku utama atau kelompok tani ( Poktan ) di desa Waiheru kecamatan Baguala Kota Ambon.

  • Tercapainya Penyaluran informasi pengunaan teknologi pertanian modern ( Holtikultura ) yang berhasil dan berdaya guna dalam meningkatkan produktivitas usaha pertanian.

  • Merubah pola pikir pelaku utama yang tadinya masih menerapkan teknologi pertanian tradisional untuk mempergunakan teknologi pertanian modern guna peningkatan produksi dan kesejahteraan pelaku utama itu sendiri.

  • Mengupayakan Pelaku utama agar mampu mengelola system penerapan teknologi pertanian modern ( Holtikultura ) secara baik,terencana dan berhasilguna.

Pemanfaatan Teknologi GPS Pengganti Pematang Sawah Untuk Kemudahan Penerapan Mekanisasi Pertanian pada Lahan Sawah

Judul diatas insya Allah akan saya jadikan sebagai judul skripsi yang akan saya garap as soon as possible. Ide ini saya dapatkan dari Menteri BUMN Dahlan Iskan Hadahullahu saat tatap muka dengan beliau pada acara talk show di UGM.

Gagasan ini  timbul akibat munculnya problem berkurangnya tenaga kerja pertanian di Pedesaan. Ada 2  penyebab utama terkait masalah tersebut yaitu urbanisasi dan menurunnya minat generasi muda terjun ke sektor ini.  Sehingga harus dipikirkan bagaimana caranya agar lahan sawah tetap produktif ditengah keterbatasan SDM.

Darisini muncul pemikiran untuk mentransformasi pertanian tradisional menjadi pertanian modern berbasis pada otomatisasi pertanian.Otomatisasi atau mekanisasi pertanian didefiniskan dengan penggunaan alat teknologi modern guna mendukung kegiatan pertanian. diharapkan mekanisasi pertanian dapat mengisi pos yang ditinggalkan tenaga kerja dan meningkatkan produktifitas

Untuk mempersempit ruang lingkup saya batasi pada kegiatan infarm budidaya padi yang banyak

Sampai saat ini mayoritas budidaya padi masih dijalankan secara tradisional dengan ciri khas penggunaan alat alat sederhana yang memerlukan banyak tenaga kerja dan boros waktu. Meski dibanyak tempat penggunaan hewan untuk mengolah tanah sudah digantikan dengan traktor. Namun untuk menanam dan memanen masih dikerjakan secara manual.

Mekanisasi pertanian yang diharapkan dapat menggantikan tenaga kerja di sektor pertanian tidaklah mudah untuk diterapkan di negeri ini. Persoalan utamanya adalah kepemilikan perseorangan lahan sawah yang sempit sehingga hasil panen terbatas dan tidak cukup untuk menutupi cost penggunaan alat mesin pertanian modern. Sehingga amat diperlukan kelompok tani yang bersama sama membeli, memelihara dan menggunakan alat pertanian modern. Diharapkan beban pengeluaran tidak terlalu besar untuk ditanggung perseorangan karena disebar keseluruh anggota kelompok.

Pembentukan kelompok tani belum menuntaskan hambatan penerapan mekanisasi pertanian. Hipotesa yang saya ajukan berpendapat masih ada satu lagi yaitu keberadaan pematang sawah. Hal yang biasa ditemui pada hamparan lahan sawah yang luas adalah  puluhan petak sawah yang dibatasi dengan pematang. Pematang sawah inilah yang dijadikan penanda batas kepemilikan. Dugaan saya keberadaan pematang ini akan menciptakan inefisiensi dan inefektivitas penggunaan alat mesin pertanian. Mengapa demikian? Itulah yang akan saya teliti. Dan setelah diketahui dengan pasti kebenaran hipotesis tersebut, saya akan meneliti kemungkinan penggunaan garis imaginatif berbasis teknologi GPS sebagai pengganti pematang sawah yang menandakan kepemilikian lahan.

Menerapkan Teknik Pertanian Modern dengan Tekno-Ekologis


pertanian

Pertanian tekno-ekologis merupakan model pertanian yang dikembangkan dengan memadukan model “pertanian ekologis” dengan pertanian berteknologi maju yang selaras dengan kondisi alam atau ekosistem setempat. Model pertanian ini dapat mencapai target produktivitas secara memuaskan pada komoditas tertentu, seperti padi, jagung, dan kacang-kacangan. Sistem ini lebih efisien dan berkualitas dengan risiko yang lebih kecil dan ramah lingkungan.

Ada beberapa penerapan model pertanian tekno-ekologis yang bisa diterapkan di Indonesia, yaitu model pertanian tekno-ekologis di ekosistem lahan kering beriklim basah, tekno-ekologis di lahan kering beriklim kering, tekno-ekologis di ekosistem sawah, tekno-ekologis di ekosistem kawasan urban, tekno-ekologis di ekosistem pantai. Tekno-ekologis di ekosistem lahan kering beriklim basah di antaranya diterapkan pada perkebunan kopi dan kakao. Setiap metode bisa diterapkan dengan sistem integrasi sederhana atau integrasi kompleks.

Dari aspek ekologi, model pertanian tekno-ekologis berorientasi pada optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal melalui siklus produksi tertutup guna menekan penggunaan bahan-bahan anorganik (kimiawi). Implikasinya, model tekno-ekologis ini akan dapat mendukung kelestarian ekosistem. Jika penerapannya didukung oleh aplikasi teknologi yang bersifat adaptasi dan mitigasi secara terencana dan terarah, model pertanian tekno-ekologis dapat membantu petani dalam menyikapi fenomena global perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Buku Saatnya Menerapkan Pertanian Tekno-Ekologis ini akan menjelaskan kepada Anda secara lengkap mengenai sistem tekno-ekologis. Suprio Guntoro menyusunnya secara sistematis yang dimulai dengan gambaran situasi iklim yang semakin memprihatinkan akibat pemanasan global yang diakibatkan oleh tangan manusia. Dari sini, diharapkan setiap pelaku pertanian dan semua lapisan masyarakat memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam secara ramah melalui pendekatan sistem tekno-ekologis. Pasalnya, disinyalir kegiatan pertanian dituding berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).

Saatnya_Menerapkan_Pertanian_Tekno-EkologisBuku terbitan AgroMedia Pustaka ini ditulis berdasarkan pengalaman penulis di lapangan dalam penerapan model pertanian tekno-ekologis. Di dalamnya, dibahas tentang berbagai metode pertanian tekno-ekologis yang bisa diterapkan oleh setiap petani, mulai dari model pertanian tekno-ekologis ekosistem lahan kering beriklim basah, model tekno-ekologis di ekosistem sawah, hingga model tekno-ekologis di ekosistem pantai.

Selain itu, dibahas pula teknologi dan inovasi yang dapat dimanfaatkan petani dan nelayan untuk menyokong model pertanian tekno-ekologis di berbagai ekosistem. Misalnya, teknologi dan inovasi budi daya tanaman pangan padi dan palawija dengan teknologi adaptasi atau mitigasi, di antaranya dengan sistem pemilihan varietas, pergantian komoditas, perbaikan teknik budi daya, dan pola manajemen air.

Bagi Anda yang ingin mengetahui analisis usaha tani integratif, di dalam buku ini dilengkapi pula dengan 2 contoh penjelasan simulasi biaya usaha tani integratif di lahan perkebunan dan sawah. Dari sini Anda bisa mengetahui besaran input–output serta keuntungan yang diperoleh dengan sistem yang diterapkan.

Teknologi EM, Dimensi Baru Dalam Pertanian Modern

Begitu banyaknya petani yang mengeluh di masa sekarang ini, karena berbagai macam persoalan, antara lain, produksi yang terus menurun, tanah tak lagi subur dan begitu mudahnya tanaman terserang hama dan penyakit. Cara umum pak tani mengatasi masalah tersebut biasanya dengan menambah dosis pupuk, dosis insektisida yang akhirnya berujung pada meningkatnya biaya usaha tani.

Ternyata ada masalah besar yang lebih besar menanti, dengan budidaya seperti itu-pemberian pupuk dan pestisida yang berlebihan-cenderung mengabaikan keseimbangan ekologi sehingga kondisi fisik dan biologis tanah menjadi terganggu. Jika cara seperti ini dilakukan terus menerus akan mengakibatkan tanah menjadi tidak sehat, bersifat pathogen dan struktur tanah berkurang. Dan pada akhirnya akan merusak kesehatan manusia sebagai konsumen.

Pada tahun 1980-an, Prof. Dr. Teruo Higa dari University of The Ryukus, Okinawa, Jepang telah mengadakan penelitian terhadap sekelompok mikroorganisme yang dengan efektif dapat bermanfaat dalam memperbaiki kondisi tanah, menekan pertumbuhan mikroba yang menimbulkan penyakit dan memperbaiki efisiensi penggunaan bahan organik oleh tanaman. Kelompok mikroorganisme tersebut disebut dengan Effective Microorganisms yang disingkat EM.

Beberapa mikroorganisme utama yang dapat digunakan sebagai inokulan mikroba antara lain bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, Ragi ( yeast ), Actinomycetes dan jamur fermentasi

1. Bakteri Fotosintetik ( Rhodopseudomonas spp. )

Bakteri ini adalah mikroorganisme mandiri dan swasembada. Bakteri ini membentuk senyawa-senyawa bermanfaat dari sekresi akar tumbuhan, bahan organik dan gas-gas berbahaya dengan sinar matahari dan panas bumi sebagai sumber energi. Zat-zat bermanfaat yang terbentuk anatara lain, asam amino asam nukleik, zat bioaktif dan gula yang semuanya berfungsi mempercepat pertumbuhan

Hasil metabolisme ini dapat langsung diserap tanaman dan berfungsi sebagai substrat bagi mikroorganisme lain sehingga jumlahnya terus bertambah

2. Bakteri asam laktat ( Lactobacillus spp. ) dapat mengakibatkan kemandulan ( sterilizer) oleh karena itu bakteri ini dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan; meningkatkan percepatan perombakan bahan organik; menghancurkan bahan organik seperti lignin dan selulosa serta memfermentasikannya tanpa menimbulkan senyawa beracun yang ditimbulkan dari pembusukan bahan organik Bakteri ini dapat menekan pertumbuhan fusarium, yaitu mikroorganime merugikan yang menimbukan penyakit pada lahan/ tanaman yang terus menerus ditanami.

3. Ragi / Yeast ( Saccharomyces spp. )

Melalui proses fermentasi, ragi menghasilkan senyawa-senyawa bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dari asam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik atau bahan organik dan akar-akar tanaman. Ragi juga menghasilkan zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim untuk meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Sekresi Ragi adalah substrat yang baik bakteri asam laktat dan Actinomycetes

4. Actinomycetes

Actinomycetes menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri fotosintetik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri.

Actinomycetes hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik bersama-sama meningkatkan mutu lingkungan tanah dengan cara meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah.

5. Jamur Fermentasi

Jamur fermentasi ( Aspergillus dan Penicilium ) menguraikan bahan secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester dan zat-zat anti mikroba. Pertumbuhan jamur ini membantu menghilangkan bau dan mencegah serbuan serangga dan ulat-ulat merugikan dengan cara menghilangkan penyediaan makanannya.

Tiap species mikroorganisme mempunyai fungsi masing-masing tetapi yang terpenting adalah bakteri fotosintetik yang menjadi pelaksana kegiatan EM terpenting. Bakteri ini disamping mendukung kegiatan mikroorganisme lainnya, ia juga memanfaatkan zat-zat yang dihasilkan mikroorganisme lain.

Secara umum manfaat Teknologi EM dalam bidang pertanian adalah sebagai berikut :

1.Memperbaiki sifat biologis, fisik dan kimia tanah

2.Meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi

3.Memfermentasi bahan organik tanah dan mempercepat dekomposisi

4.Menghasilkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian berwawasan lingkungan

5.Meningkatkan keragaman mikroba yang menguntungkan di dalam tanah

Prospek Pertanian Organik di Indonesia

Memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian. Orang semakin arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat dengan slogan �Back to Nature� telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik.
Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Indonesia memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam, potensi pertanian organik sangat besar. Pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun, oleh karena itu pengembangan budidaya pertanian organik perlu diprioritaskan pada tanaman bernilai ekonomis tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
Peluang Pertanian Organik di Indonesia
Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Pertanian organik menuntut agar lahan yang digunakan tidak atau belum tercemar oleh bahan kimia dan mempunyai aksesibilitas yang baik. Kualitas dan luasan menjadi pertimbangan dalam pemilihan lahan. Lahan yang belum tercemar adalah lahan yang belum diusahakan, tetapi secara umum lahan demikian kurang subur. Lahan yang subur umumnya telah diusahakan secara intensif dengan menggunakan bahan pupuk dan pestisida kimia. Menggunakan lahan seperti ini memerlukan masa konversi cukup lama, yaitu sekitar 2 tahun.
Volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar disuplay oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.
Potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Berbagai kendala yang dihadapi antara lain: 1) belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, 2) perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, 3) belum ada kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.
Areal tanam pertanian organik, Australia dan Oceania mempunyai lahan terluas yaitu sekitar 7,7 juta ha. Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar (Tabel 1). Sayuran, kopi dan teh mendominasi pasar produk pertanian organik internasional di samping produk peternakan.
Tabel 1. Areal tanam pertanian organik masing-masing wilayah di dunia, 2002
No. Wilayah Areal Tanam (juta ha)
  1. Australia dan Oceania 7,70
  2. Eropa 4,20
  3. Amerika Latin 3,70
  4. Amerika Utar 1,30
  5. Asia 0,09
  6. Afrika 0,06
Sumber: IFOAM, 2002; PC-TAS, 2002.
Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk bersaing di pasar internasional walaupun secara bertahap. Hal ini karena berbagai keunggulan komparatif antara lain : 1) masih banyak sumberdaya lahan yang dapat dibuka untuk mengembangkan sistem pertanian organik, 2) teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah cukup tersedia seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain.
Pengembangan selanjutnya pertanian organik di Indonesia harus ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar global. Oleh sebab itu komoditas-komoditas eksotik seperti sayuran dan perkebunan seperti kopi dan teh yang memiliki potensi ekspor cukup cerah perlu segera dikembangkan. Produk kopi misalnya, Indonesia merupakan pengekspor terbesar kedua setelah Brasil, tetapi di pasar internasional kopi Indonesia tidak memiliki merek dagang.
Pengembangan pertanian organik di Indonesia belum memerlukan struktur kelembagaan baru, karena sistem ini hampir sama halnya dengan pertanian intensif seperti saat ini. Kelembagaan petani seperti kelompok tani, koperasi, asosiasi atau korporasi masih sangat relevan. Namun yang paling penting lembaga tani tersebut harus dapat memperkuat posisi tawar petani.
Pertanian Organik Modern
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.
Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.
Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:
a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.
b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.
Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.
Tabel 2. Komoditas yang layak dikembangkan dengan sistem pertanian organik
No. Kategori Komoditi
  1. Tanaman Pangan Padi
  2. Hortikultura Sayuran: brokoli, kubis merah, petsai, caisin, cho putih, kubis tunas, bayam daun, labu siyam, oyong dan baligo. Buah: nangka, durian, salak, mangga, jeruk dan manggis.
  3. Perkebunan Kelapa, pala, jambu mete, cengkeh, lada, vanili dan kopi.
  4. Rempah dan obat Jahe, kunyit, temulawak, dan temu-temuan lainnya.
  5. Peternakan Susu, telur dan daging

Pertanian Organik Indonesia Berkembang Pesat



Jakarta (ANTARA News) - Pola pertanian organik yang bersih dari bahan-bahan kimia sintetis seperti pestisida, berkembang kiat pesat di Indonesia, kata Sebastian Saragih, Presiden Aliansi Organis Indonesia di Jakarta, Selasa.

Menurut data Statistik Pertanian Organik Indonesia 2010, pada tahun yang sama luas area pertanian organik di Indonesia mencapai 239.872,24 hektar.

Jumlah yang diklaim 10 persen lebih luas dari tahun 2009 itu mencakup luas lahan pertanian organik yang telah disertifikasi, yang sedang dalam proses sertifikasi, sertifikasi Penjaminan Mutu Organis Indonesia (PAMOR), dan tidak bersertifikasi.

"Dari gambaran itu kita bisa menyimpulkan bahwa perdagangan produk pertanian organik sedang bertumbuh pesat," kata Sebastian dalam 'Talk Show' bertema Pertanian Organik Solusi Pangan Sehat dan Berkeadilan.

Selain terus bertambahnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian organik, Aliansi Organis Indonesia juga mencatat semakin meningkatnya jumlah produsen komoditas organik, demikian juga ragam komoditas organik yang dibudidaya, merk dagang organik, dan pemasok ke pengecer seperti super market.

"Yang tak kalah menarik adalah kecendrungan restoran besar menggunakan beras organik sebagai penarik pelanggan," papar Sebastian lebih lanjut.

Akan tetapi di tengah perkembangan yang pesat itu, AOI juga melihat potensi bahaya peminggiran petani organik berskala kecil. Bahaya itu datang dari proses sertifikasi komoditas organik sesuai dengan Standard Nasional Indonesia Sistem Pangan Organik yang disahkan oleh Badan Standardisasi Nasional.

Menurut AOI, penggunaan standard itu memang bertujuan melindungi konsumen dan petani organik agar tidak dirugikan oleh para pemalsu produk organik. Tetapi biaya sertifikasi yang mahal dan standar serta proses sertifikasi yang tidak sesuai dengan budaya petani bisa menyingkirkan para petani kecil.

"Biaya sertifikasi untuk wilayah Jawa misalnya berkisar 5 sampai 15 juta rupiah perunit usaha tani padahal rata-rata luas lahan petani di bawah satu hektar," ujar Sebastian lebih lanjut.

Karenanya AOI melihat pentingnya membebaskan petani berskala kecil dari keharusan membuat sertifikat, membuat regulasi yang sesuai budaya petani, pengakuan sistem penjaminan berbasis komunitas, dikungan dana sertifikasi, dan mengkampanyekan perdagangan yang adil.

0 komentar: